Jumat, 23 Maret 2012

"Kalau Tuhan cipatain kita beda-beda, lalu kenapa Dia ingin disembah dengan satu cara" -CIN(T)A


Salah satu kata-kata kutipan dari film yang bercerita tentang CINTA beda agama. Yah mungkin ini salah satu masalah yang sangat sulit untuk menemukan jalannya, pasti berakhir dengan perpisahan.Perpisahan yang bahkan kedua belah pihak yang terlibat tidak menginginkannya. Sebenarnya tidak baik mempermasalahkan Agama demi sesuatu yang abstrak bukan kah Agama itu hal yang mutlak benar."Bercintalah di jaman batu bila tak mau ada batasan soal keyakinan ini" yah kita hidup di masa yang menghadirkan keberagaman agama. Mau tidak mau, suka tidak suka tapi sebagai individu yang beragama apa mau dikata.
Saya sendiri ikut merasakan ini. Bukan, bukan saya aktor utamanya, tapi salah satu orang terdekat di hidup saya mengalaminya. Jelas saya sangat berempati dengan ini. Saya seperti menjadi produser saat dua insan ini mencari sebuah jalan untuk berkomitmen. Bahagianya mereka, dan saya pun. Tapi mungkin tanpa mereka sadar mereka sudah mendapat masalah saat pertama saling kenal pun. Bagaimana bisa saat bahagia yang paling menguasai jangankan memikirkan hal seperti ini. Yah, keyakinan mereka berbeda. Tapi cinta terlalu besar untuk dibendung. 4 bulan 4 hari tepatnya, saya sempat kaget ketika mendapat pesan singkat yang mengabarkan bahwa mereka sudah putus. bagaimana tidak saya merasa terlibat dalam proses mereka bersatu, tapi saya tidak bisa berbuat apa-apa saat akhirnya masalah besar ini naik ke permukaan.

"Agama itu cuma soal keyakinan, hal baik yang menjadi pedoman kita, kenapa ini harus menjadi masalah?". tanya ini sempat timbul. Bahkan tak ada satu setan pun yang tau benarnya jalan ini harus seperti apa. Perpisahan yang akhirnya menjadi jalan tercepat. Pasti, akan muncul rasa Salah, Sesal setelahnya saat memutuskan hal ini. Tidak, tak bisa pula cinta yang disalahkan. Cinta tumbuh dengan sendirinya tanpa alasan mengalir selayaknya mencari muara.

"Apa kita ahli agama sampai separah ini mempermasalahkannya, kita tau agama saja karena ini keturunan dari orang tua". Salah mungkin, tapi kalimat ini sempat saya utarakan karena bahkan saya pun menemui arah yang buntu tentang ini.
Tapi akhirnya saya sadar tentang ini, karena bukan masalah kalau tanpa solusi."Kalau ini cuma masalah komitmen, bukankah tanpa itu pun kalian masih bisa saling berbagi rasa? bahkan tanpa harus terikat" inilah kalimat yang saya coba berikan untuk mereka. Karena inti dari masalah seperti ini sejatinya hanya tentang komitmen, kan? Dari keyakinan kedua belah pihak bahwa komitmen ini dilarang bila ternyata Agama masing-masingnya berbeda. Okey, kesampingkan soal ini karena sudah tidak mungkin untuk diperluas lagi.

Cinta tidak pernah salah, hanya caranya saja mungkin yang kurang tepat. disaat seperti inilah harusnya kita mampu membuka luas pikiran kita dan gunakan hati kita juga. Selalu ada jalan saat hati berkata yakin bahwa ini benar adanya. Sebab kehidupan tidak perjalan mundur, pun tidak tenggelam dimasa lampau. Tetaplah sadar dan bersyukur karena Tuhan yang berikan kita kemampuan untuk tau bagaimana rasa Cinta.

Dedicated to Taufik Nur Shidiq & Sharon Patricia Kandou.
"Manusia tidak akan dapat menuai cinta sampai dia merasakan perpisahan yang menyedihkan, dan mampu membuka pikirannya, merasakan kesabaran yang pahit dan kesulitan yang menyedihkan."

Jumat, 16 Maret 2012

What's wrong with my eyes?

Kenapa di profile blog gue, gue tulis "Be careful with your eyes"? Sebenernya ini bukan magic sih, tapi selama 20 tahun (hampir) gue hidup udah banyak banget pelajaran hidup yang gue dapet. Dan salah satu pelajaran berharga yang gue dapet adalah, Mata  : satu-satunya bagian di tubuh manusia yang sangat sulit buat berbohong. Yah, kita sedih mata yang nunjukin, kita seneng mata juga bisa nunjukin, dan segala perasaan itu bisa dilihat dari mata. Ada pepatah bilang "dari mata turun ke hati". Dan salah satu pendapat gue,"dari mata kita bisa melihat hati". Gue baru sadar kalau ternyata gue bisa baca mata orang, semacam menerawang. Ini sebenernya karena gue orang yang paling benci kalau dibohongin (semua orang juga ga suka kali). Tapi dari sinilah, contoh cewe gue si irvi yang notabennya pemendem (Baca: tertutup) orangnya. Dia salah satu korban mata gue (you can ask her) semua yang ga bisa dia bicarain gue tau. Waktu dia galau hampir tiga bulan lebih, gue bisa ngasih solusi tanpa dia cerita semua. Kasian sih, tapi maaf ya Irvi gue cuma berusaha membantu, jadi dia ga bisa nutupin apa-apa dari gue *ketawa kemenangan*. Contoh lain adalah sahabat Irvi si Ardizza, pertama kali gue ketemu sama dia. (maaf karena belum ada izin dari pihak yang bersangkutan jadi cerita tidak bisa dituliskan). Dan orang-orang sekitar gue. Jujur sebenernya gue pengen banget ngebantu mereka dalam masalahnya, tapi entah kenapa banyak juga dari mereka yang mandang gue sebelah mata. Jadi jangankan mau  ngebantu merekanya aja kurang respect sama gue, kenape gue harus mikirin mereka *ketus*. Kalau kalian ngira gue bohong, gue udah nyoba ke beberapa orang dan emang bener apa yang gue baca. Buat kalian yang meresa kalau mata gue jutek, songong atau semacamnya, maaf emang dari sononya mata gue gini. Dan emang  gue kalau liat orang pasti langsung ke matanya :D

Saran dari gue sih kalau ada masalah jangan dipendem terus, kalau kalian mikir ga ada solusinya berarti itu bukan masalah, karena setiap masalah itu ada solusinya. Coba buat ungkapin atau ceritain kita butuh masukan dari orang juga kok. Hidup kita terlalu singkat buat nyelesein masalah sendiri.

Rabu, 14 Maret 2012

MEIN SONNENSCHEIN

Iloveyou :*

Kalau aja otak bisa di upgrade

Okey sedikit cerita (curhatan tepatnya) tentang apa yang gue dapet selama hampir setahun kuliah ini. SETAHUN. Ya satu tahun, hampir. Well, memang sebenernya jurusan yang gue ambil sekarang bukan jurusan yang gue harapin, tapi apa mau dikata nasib mengharuskan gue berjodoh dengan sastra. Yah, gue kuliah di Fakultas Sastra (yang sekarang bernama Fakultas Ilmu budaya) jurusan Sastra Jerman, Universitas Padjajaran. But, karena dari awalnya gue cuma modal nekat daripada ga kuliah, beginilah hampir setahun gue kuliah tapi setiap dosen ngebusa (baca: ngomong) di kelas gue sama sekali ga ngerti apa yang disampeinnya hehe. Sumpah bukan gue bodoh tapi emang tuh dosen aja ga pengertian, tau gue baru banget ketemuan sama bahasa jerman *ngeles*. Ada satu mata kuliah yang termasuk matkul utama, judulnya Deutsch Fuer Anfaenger atau Bahasa jerman untuk pemula, sedikit pembelaan (baca: ngeles) dari namanya aja udah Bahasa jerman untuk pemula tapi ini dosennya malah ngejelasin pake bahasa jerman. Alhasil gue yang kelewat pinter ini ga ngerti apa-apa selama satu tahun tuh dosen ngebusa mulutnya dikelas. Kadang waktu dia ngomong gue merhatiin mukanya sambil bayangin, "kalau aja ini dosen kena rematik terus ga masuk kalau kuliah pagi" (sumpah jangan ditiru) atau gue merhatiin tapi pikiran gue entah berkelana kemana. Dan kadang yang lebih parah, akhir-akhir ini kalau dia ngebusa gue malah baca buku, tapi bukan buku DFA nya hahahaha. Yah Allah sumpah bukan gue pengen ngelakuin semua hal itu, tapi gue ga ngerti apa yang itu dosen omongin. Gak tau guenya yang lemot gitu? Andai ini otak bisa di upgrade, gue mau dah minimal gue ngerti tiap dia ngebusa dikelas. Dan ternyata dari 40 mahasiswa di kelas gue hanya beberapa yang ngerti waktu dia ngebusa. Yang berarti sisanya senasib sama gue.
 Dear Frau Atty, With all of my honor, Maafkan saya bu. Semoga ibu tau kalau selama ini ibu ngomong dikelas hanya sedikit yang saya mengerti. Semoga ibu mengerti, Sebenarnya, andai di semester satu ibu menggunakan bahasa Ibu kita untuk menjelaskan mungkin saya sedikit lebih mengerti. Sedikit.
Tertanda; Mahasiswamu yang tampan