"Kalau Tuhan cipatain kita beda-beda, lalu kenapa Dia ingin disembah dengan satu cara" -CIN(T)A
Salah satu kata-kata kutipan dari film yang bercerita tentang
CINTA beda agama. Yah mungkin ini salah satu masalah yang sangat sulit untuk menemukan jalannya, pasti berakhir dengan perpisahan.Perpisahan yang bahkan kedua belah pihak yang terlibat tidak menginginkannya. Sebenarnya tidak baik mempermasalahkan Agama demi sesuatu yang abstrak bukan kah Agama itu hal yang mutlak benar."Bercintalah di jaman batu bila tak mau ada batasan soal keyakinan ini" yah kita hidup di masa yang menghadirkan keberagaman agama. Mau tidak mau, suka tidak suka tapi sebagai individu yang beragama apa mau dikata.
Saya sendiri ikut merasakan ini. Bukan, bukan saya aktor utamanya, tapi salah satu orang terdekat di hidup saya mengalaminya. Jelas saya sangat berempati dengan ini. Saya seperti menjadi produser saat dua insan ini mencari sebuah jalan untuk berkomitmen. Bahagianya mereka, dan saya pun. Tapi mungkin tanpa mereka sadar mereka sudah mendapat masalah saat pertama saling kenal pun. Bagaimana bisa saat bahagia yang paling menguasai jangankan memikirkan hal seperti ini. Yah, keyakinan mereka berbeda. Tapi cinta terlalu besar untuk dibendung. 4 bulan 4 hari tepatnya, saya sempat kaget ketika mendapat pesan singkat yang mengabarkan bahwa mereka sudah
putus. bagaimana tidak saya merasa terlibat dalam proses mereka bersatu, tapi saya tidak bisa berbuat apa-apa saat akhirnya masalah besar ini naik ke permukaan.
"Agama itu cuma soal keyakinan, hal baik yang menjadi pedoman kita, kenapa ini harus menjadi masalah?". tanya ini sempat timbul. Bahkan tak ada satu setan pun yang tau benarnya jalan ini harus seperti apa. Perpisahan yang akhirnya menjadi jalan tercepat. Pasti, akan muncul rasa Salah, Sesal setelahnya saat memutuskan hal ini. Tidak, tak bisa pula cinta yang disalahkan. Cinta tumbuh dengan sendirinya tanpa alasan mengalir selayaknya mencari muara.
"Apa kita ahli agama sampai separah ini mempermasalahkannya, kita tau agama saja karena ini keturunan dari orang tua". Salah mungkin, tapi kalimat ini sempat saya utarakan karena bahkan saya pun menemui arah yang buntu tentang ini.
Tapi akhirnya saya sadar tentang ini, karena bukan masalah kalau tanpa solusi."Kalau ini cuma masalah komitmen, bukankah tanpa itu pun kalian masih bisa saling berbagi rasa? bahkan tanpa harus terikat" inilah kalimat yang saya coba berikan untuk mereka. Karena inti dari masalah seperti ini sejatinya hanya tentang komitmen, kan? Dari keyakinan kedua belah pihak bahwa
komitmen ini dilarang bila ternyata
Agama masing-masingnya berbeda. Okey, kesampingkan soal ini karena sudah tidak mungkin untuk diperluas lagi.
Cinta tidak pernah salah, hanya caranya saja mungkin yang kurang tepat. disaat seperti inilah harusnya kita mampu membuka luas pikiran kita dan gunakan hati kita juga. Selalu ada jalan saat hati berkata yakin bahwa ini benar adanya. Sebab kehidupan tidak perjalan mundur, pun tidak tenggelam dimasa lampau. Tetaplah sadar dan bersyukur karena Tuhan yang berikan kita kemampuan untuk tau bagaimana rasa Cinta.
Dedicated to Taufik Nur Shidiq & Sharon Patricia Kandou.
"Manusia tidak akan dapat menuai cinta sampai dia merasakan perpisahan yang menyedihkan, dan mampu membuka pikirannya, merasakan kesabaran yang pahit dan kesulitan yang menyedihkan."